Mengenal Tradisi Kadeso di Desa Wisata Lerep dan Makna di Baliknya

Bayangkan suasana sebuah desa di lereng Gunung Ungaran ketika warga keluar dari rumah membawa tumpeng yang dihias dengan hasil pertanian.

Ada pisang, jagung, sayuran, singkong, buah-buahan, hingga aneka makanan yang ditata menarik. Warga mengenakan pakaian tradisional, kesenian dimainkan, lalu rombongan bergerak bersama mengikuti kirab budaya.

Suasana seperti inilah yang dapat dijumpai dalam Tradisi Kadeso di Desa Wisata Lerep, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang.

Kadeso merupakan tradisi tahunan yang menjadi ungkapan rasa syukur masyarakat kepada Tuhan atas hasil panen, kesehatan, keselamatan, dan rezeki yang diperoleh sepanjang tahun.

Namun, Kadeso jauh lebih menarik daripada sekadar pesta desa. Di dalam rangkaiannya terdapat doa bersama, kirab hasil bumi, kesenian rakyat, tradisi Gepuk Bumbung, hingga pertunjukan wayang kulit.

Tradisi ini juga memperlihatkan kuatnya nilai gotong royong masyarakat Lerep. Ketika Lerep berkembang sebagai desa wisata, Kadeso pun menjadi salah satu cara terbaik bagi wisatawan untuk mengenal kehidupan dan budaya masyarakat setempat secara lebih dekat.

Apa Itu Tradisi Kadeso di Desa Wisata Lerep?

Secara sederhana, Kadeso merupakan tradisi sedekah desa atau merti desa yang dilakukan masyarakat sebagai bentuk rasa syukur.

Bagi warga Lerep, rasa syukur tersebut berkaitan erat dengan kehidupan agraris dan hasil bumi yang menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat.

Sebuah penelitian tentang kearifan lokal masyarakat Lerep menyebut Kadeso sebagai salah satu dari tiga bentuk kearifan lokal yang penting di desa tersebut bersama Iriban dan konsep tunggu gunung kudu wareg.

Penelitian tersebut menjelaskan Kadeso sebagai wujud rasa syukur atas hasil panen sekaligus bentuk perhatian masyarakat terhadap bumi yang menyediakan kebutuhan pangan mereka.

Karena itu, hasil pertanian mempunyai posisi penting dalam perayaan.

Padi, jagung, singkong, kacang-kacangan, pisang, jambu, salak, alpukat, cabai, terong, kubis, dan hasil pertanian lainnya dapat ditata sebagai bagian dari tumpeng hasil bumi. Tumpeng-tumpeng tersebut kemudian dibawa dalam kirab mengelilingi kawasan desa.

Dari sini sudah terlihat bahwa Kadeso bukan budaya yang terpisah dari keseharian masyarakat. Tradisi tersebut justru lahir dari hubungan warga dengan tanah, pertanian, lingkungan, dan kehidupan sosial desa.

Sejak Kapan Tradisi Kadeso Dilaksanakan?

Menentukan awal sebuah tradisi masyarakat tidak selalu mudah karena sebagian pengetahuan diwariskan melalui cerita dan ingatan warga.

Namun, penelitian berjudul Local Wisdom to Anticipation of Climate Change in Lerep Semarang mencatat bahwa Kadeso atau Merti Desa di Lerep telah dilaksanakan sebagai kegiatan tahunan sejak 1973.

Penelitian tersebut menyebut pelaksanaannya berkaitan dengan Rabu Kliwon setelah masa panen. Dalam perkembangannya, Kadeso kemudian dikemas dalam bentuk Lerep Culture Festival tanpa menghilangkan gagasan utama mengenai rasa syukur.

Jadesta Kementerian Pariwisata menjelaskan bahwa Kadeso dilaksanakan sekali dalam setahun dengan salah satu rangkaian utamanya berupa karnaval atau pawai masyarakat yang membawa tumpeng berisi hasil bumi dan makanan.

Jadesta juga memuat atraksi Wayang Kadeso dan menggambarkan rangkaian acara yang dapat berlangsung beberapa hari dengan pentas kesenian rakyat sebelum mencapai acara puncak berupa kirab tumpeng dan wayang kulit.

Jadwal tepatnya dapat berubah mengikuti kalender penyelenggaraan. Sebagai contoh, kalender pariwisata Jawa Tengah mencatat Kadeso Lerep Festival Budaya 2026 pada 22 Juli 2026.

Karena itu, wisatawan yang ingin menyaksikannya sebaiknya mengecek jadwal terbaru sebelum berkunjung.

Kirab Tumpeng Menjadi Bagian Paling Meriah

Salah satu bagian yang paling mudah menarik perhatian dalam Tradisi Kadeso adalah kirab tumpeng.

Warga membuat berbagai tumpeng yang dihias menggunakan hasil pertanian maupun makanan. Tumpeng tersebut lalu dibawa bersama-sama dalam arak-arakan.

Jadesta menyebut kegiatan ini melibatkan warga desa dan menjadi salah satu rangkaian utama Kadeso sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan.

Dokumentasi penyelenggaraan pada 2019 memberikan gambaran betapa meriahnya kegiatan tersebut. Ribuan warga dari 15 RT di RW 02 dan RW 03 ketika itu mengikuti Arak Tumpeng Kadeso dari kawasan Omah Kebun menuju rumah Kepala Dusun Lerep.

Hasil Bumi Sebagai Simbol Rasa Syukur

Tumpeng hasil bumi memiliki pesan yang sangat mudah dipahami. Apa yang diarak sebenarnya berasal dari apa yang tumbuh dan dihasilkan dari lingkungan desa.

Penelitian mengenai Kadeso mencatat hasil panen seperti padi, jagung, singkong, kacang, berbagai buah, dan sayuran dibawa berkeliling sembari masyarakat memanjatkan harapan akan kemakmuran.

Setelah rangkaian kirab selesai, hasil pertanian tersebut kemudian dibagikan kepada masyarakat. Jadi, hasil bumi tidak sekadar menjadi dekorasi.

Ada semangat berbagi di dalamnya. Masyarakat bersyukur atas hasil yang diperoleh, memperlihatkan kekayaan pertanian desa, kemudian menikmatinya bersama.

Kadeso Menghidupkan Semangat Gotong Royong

Hal paling penting dalam Kadeso mungkin bukan tumpengnya, melainkan orang-orang yang bekerja di belakangnya.

Tradisi seperti ini membutuhkan persiapan bersama. Warga harus menentukan konsep kegiatan, menyiapkan tumpeng, membersihkan lingkungan, mengatur arak-arakan, menyiapkan pentas kesenian, hingga memastikan seluruh acara berlangsung dengan baik.

Catatan pengelola Desa Wisata Lerep mengenai Kadeso 2019 menunjukkan bagaimana ketua-ketua RT dan warga bergotong royong mempersiapkan kirab.

Warga melakukan kerja bakti pada malam hari selama beberapa hari untuk membuat tempat tumpeng dan berbagai perlengkapan acara. Pelajar tingkat SD dan SMP juga ikut berpartisipasi dalam perayaan tersebut.

Kadeso dengan demikian menjadi ruang pertemuan berbagai generasi.

Orang tua membawa pengetahuan tentang tradisi, pemuda membantu penyelenggaraan, anak-anak mengenal kesenian, sementara perangkat desa dan kelompok masyarakat bekerja bersama.

Bagi wisatawan, sisi seperti ini justru menarik. Mereka tidak hanya melihat sebuah pertunjukan yang telah selesai dikemas, tetapi dapat menyaksikan bagaimana sebuah tradisi lahir dari partisipasi masyarakat.

Mengenal Gepuk Bumbung dalam Rangkaian Kadeso

Ada satu unsur unik dalam tradisi masyarakat Lerep yang berkaitan dengan rangkaian Kadeso, yaitu Gepuk Bumbung. Atraksi ini juga dicatat oleh Dinas Pariwisata Jawa Tengah sebagai salah satu tradisi budaya yang dapat ditemukan di Desa Wisata Lerep.

Dalam dokumentasi penelitian mengenai kearifan lokal Lerep, Gepuk Bumbung berkaitan dengan kebiasaan menyisihkan uang menggunakan wadah bambu.

Uang dimasukkan sedikit demi sedikit ke dalam bumbung atau tempat dari bambu yang disediakan di rumah warga. Pada waktu tertentu, dana tersebut dikumpulkan dan dihitung untuk membantu memenuhi kewajiban pajak bumi dan bangunan masyarakat.

Menariknya, praktik tersebut menunjukkan bahwa tradisi lokal dapat memiliki fungsi yang sangat praktis.

Jika diterjemahkan ke kehidupan modern, Gepuk Bumbung sebenarnya mirip metode menabung secara bertahap. Daripada harus menyediakan uang dalam jumlah besar sekaligus, masyarakat mengumpulkannya sedikit demi sedikit.

Kebiasaan tersebut sekaligus memperlihatkan kreativitas masyarakat dalam memadukan nilai budaya dengan kebutuhan administratif dan ekonomi sehari-hari.

Wayang Kulit Menjadi Puncak Perayaan Kadeso

Setelah hiruk-pikuk kirab budaya, suasana Kadeso biasanya berlanjut dengan pertunjukan seni.

Salah satu yang mempunyai posisi penting adalah pagelaran wayang kulit.

Informasi resmi Jadesta menyebut pertunjukan wayang sebagai bagian dari puncak Kadeso, sementara kalender pariwisata Jawa Tengah juga menempatkan kirab budaya dan pagelaran wayang kulit sebagai daya tarik utama Kadeso Lerep Festival Budaya.

Pada penyelenggaraan 2019, misalnya, Kadeso ditutup dengan pagelaran wayang kulit yang membawakan tema Semar Mbangun Kayangan. Pertunjukan berlangsung semalam suntuk dan menjadi hiburan masyarakat setelah rangkaian kegiatan pada siang hari.

Keberadaan wayang memiliki arti penting dari sisi pelestarian budaya.

Penelitian mengenai kearifan lokal di Lerep juga menilai kegiatan tersebut sebagai salah satu usaha mempertahankan tradisi wayang sekaligus mengenalkan kesenian kepada anak-anak dan remaja agar tidak semakin jauh dari budaya lokal.

Di tengah dominasi hiburan digital, kesempatan melihat pertunjukan tradisional secara langsung membuat Kadeso memiliki fungsi pendidikan budaya yang semakin relevan.

Hubungan Kadeso dengan Alam dan Kehidupan Petani

Desa Lerep berada di kawasan yang kehidupan masyarakatnya dekat dengan pertanian dan sumber daya alam. Karena itu, rasa syukur dalam Kadeso memiliki hubungan langsung dengan keberhasilan panen dan keberlangsungan lingkungan.

Penelitian mengenai kearifan lokal Lerep bahkan menempatkan Kadeso sebagai salah satu praktik yang berkaitan dengan hubungan manusia dan lingkungan.

Bersama Iriban serta pengelolaan tanaman melalui konsep tunggu gunung kudu wareg, tradisi lokal tersebut menunjukkan cara masyarakat menjaga hubungan dengan alam sekaligus mempertahankan sumber penghidupan.

Pesannya sederhana: manusia tidak hidup terpisah dari lingkungan.

Ketika tanah subur, air tersedia, tanaman tumbuh baik, dan hasil panen mencukupi, masyarakat memperoleh manfaat. Karena itu muncul kewajiban moral untuk bersyukur sekaligus menjaga sumber daya tersebut.

Nilai inilah yang membuat Kadeso menarik jika dilihat dari sudut pandang wisata edukasi. Wisatawan dapat belajar bahwa budaya pedesaan bukan hanya tentang pakaian adat dan pertunjukan seni, melainkan juga cara masyarakat memahami hubungan antara manusia, pangan, dan alam.

Dari Tradisi Desa Menjadi Atraksi Wisata Budaya

Perkembangan Desa Lerep menjadi desa wisata membuat Kadeso mempunyai fungsi tambahan.

Tradisi yang sebelumnya terutama menjadi kegiatan masyarakat kini juga diperkenalkan sebagai atraksi wisata budaya. Situs resmi pariwisata Jawa Tengah mencantumkan Kadeso bersama Sadranan, Iriban, dan Gepuk Bumbung sebagai kekayaan budaya Desa Wisata Lerep.

Bahkan, Jadesta menyediakan informasi mengenai Paket Budaya Kadeso. Paket tersebut memadukan tradisi budaya dengan kehidupan sehari-hari para petani sehingga pengunjung dapat merasakan suasana masyarakat Lerep ketika berlangsung momen sedekah bumi atau Kadeso.

Pendekatan tersebut berbeda dengan wisata yang hanya mengandalkan spot foto.

Pengunjung mendapat kesempatan untuk melihat kegiatan masyarakat, menikmati kesenian, memahami hasil pertanian, hingga mengenal filosofi di balik tradisi.

Namun, ada satu hal penting yang perlu dijaga. Ketika budaya menjadi atraksi wisata, masyarakat lokal tetap perlu menjadi pemilik utama tradisi tersebut. Pariwisata sebaiknya membantu pelestarian dan perekonomian warga, bukan mengubah Kadeso menjadi sekadar pertunjukan tanpa makna.

Mengapa Tradisi Kadeso Penting untuk Dilestarikan?

Kadeso membawa beberapa nilai dalam satu kegiatan: rasa syukur, kebersamaan, budaya agraris, kesenian, kepedulian terhadap alam, hingga hubungan antargenerasi.

Tradisi ini juga membuat masyarakat memiliki ruang untuk berkumpul.

Di tengah perubahan gaya hidup, aktivitas bersama semacam kirab tumpeng, kerja bakti, pertunjukan kesenian, dan wayangan membantu menjaga ikatan sosial di tingkat desa.

Dokumentasi dan penelitian mengenai Lerep menunjukkan kuatnya keterlibatan pemerintah desa, lembaga masyarakat, pemuda, dan warga dalam pelaksanaan Kadeso.

Bagi generasi muda, perayaan ini menjadi kesempatan belajar budaya secara langsung.

Mereka tidak hanya membaca tentang tradisi dari buku atau internet. Mereka melihat persiapannya, membantu kegiatan, mengenakan pakaian tradisional, memainkan kesenian, dan berinteraksi dengan para sesepuh.

Selama nilai dasarnya tetap dijaga, Kadeso dapat terus berkembang mengikuti zaman tanpa kehilangan identitasnya.

Tradisi Kadeso di Desa Wisata Lerep merupakan perayaan tahunan yang memperlihatkan kuatnya hubungan antara masyarakat, hasil pertanian, budaya, dan rasa syukur kepada Tuhan.

Kegiatannya berkembang dalam berbagai bentuk, mulai dari doa bersama, kirab tumpeng hasil bumi, kesenian rakyat, Gepuk Bumbung, hingga pagelaran wayang kulit.

Lebih dari sebuah festival, Kadeso menjadi ruang untuk menjaga gotong royong dan mewariskan budaya kepada generasi berikutnya.

Ketika kemudian dikembangkan sebagai atraksi Desa Wisata Lerep, tradisi ini juga membuka kesempatan bagi pengunjung untuk mengenal kehidupan pedesaan secara lebih autentik.

Jika ingin melihat sisi budaya Lerep yang lebih dalam, cobalah berkunjung ketika Kadeso digelar. Pastikan mengecek kalender acara terbaru, lalu nikmati bukan hanya keramaiannya, tetapi juga cerita dan nilai yang hidup di balik setiap tumpeng dan kirab budaya.

FAQ

1. Apa itu Tradisi Kadeso di Desa Lerep?

Kadeso adalah tradisi tahunan atau merti desa yang menjadi bentuk rasa syukur masyarakat Lerep kepada Tuhan atas hasil panen, kesehatan, keselamatan, dan berbagai berkah yang diterima.

2. Sejak kapan Kadeso di Lerep dilaksanakan?

Sebuah penelitian mengenai kearifan lokal Desa Lerep mencatat kegiatan Kadeso telah berlangsung sejak 1973 dan secara tradisional berkaitan dengan pelaksanaan pada Rabu Kliwon setelah panen.

3. Apa saja rangkaian acara Tradisi Kadeso?

Rangkaiannya dapat mencakup doa bersama, pentas kesenian, kirab atau arak-arakan tumpeng hasil bumi, Gepuk Bumbung, serta pagelaran wayang kulit. Bentuk dan jadwal acara dapat berkembang dari tahun ke tahun.

4. Mengapa masyarakat mengarak tumpeng hasil bumi?

Tumpeng hasil bumi menjadi simbol rasa syukur atas hasil pertanian dan rezeki yang diterima masyarakat. Setelah kirab, hasil pertanian juga dapat dibagikan kepada warga sebagai bagian dari semangat kebersamaan.

5. Apakah wisatawan dapat menyaksikan Kadeso?

Ya. Kadeso telah dikembangkan menjadi bagian dari atraksi budaya Desa Wisata Lerep. Jadesta bahkan mencantumkan Paket Budaya Kadeso yang memadukan pengalaman tradisi dengan kehidupan sehari-hari petani.