Ekowisata di Desa Lerep, Liburan Hijau di Lereng Gunung Ungaran

Liburan ke alam tidak harus selalu berarti mendaki gunung atau masuk jauh ke tengah hutan.

Kadang pengalaman yang lebih menarik justru datang dari berjalan di antara sawah, belajar menanam padi, menyusuri sungai, mengenal sumber mata air, lalu menikmati makanan buatan warga desa.

Pengalaman seperti itu bisa ditemukan melalui ekowisata di Desa Lerep, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang.

Berada di kawasan lereng Gunung Ungaran, desa ini memiliki lingkungan pegunungan yang sejuk sekaligus potensi pertanian, sungai, air terjun, budaya, dan kehidupan masyarakat yang masih menjadi bagian penting dari daya tarik wisatanya.

Lerep resmi ditetapkan sebagai desa wisata pada 2015 dan saat ini tercatat dalam Jadesta sebagai Desa Wisata Maju.

Yang menarik, wisata alam di Lerep tidak berdiri sendiri. Pengunjung dapat menggabungkannya dengan kegiatan bercocok tanam, kerajinan bambu, pengolahan hasil pertanian, sampai belajar tradisi konservasi air.

Inilah yang membuat perjalanan ke Lerep terasa lebih dari sekadar jalan-jalan.

Mengenal Konsep Ekowisata di Desa Lerep

Ekowisata biasanya identik dengan perjalanan yang memberi perhatian pada alam, edukasi, manfaat bagi masyarakat lokal, dan keberlanjutan lingkungan.

Dalam konteks Desa Lerep, unsur-unsur tersebut terlihat melalui perpaduan wisata alam dengan kegiatan edukasi, pertanian, budaya, serta keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan desa wisata.

Lerep sendiri mengembangkan produk bernama Edu-Eco Tour, yang memanfaatkan berbagai aktivitas keseharian masyarakat menjadi pengalaman belajar bagi wisatawan.

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mencatat kegiatan seperti bercocok tanam, beternak, pengolahan susu sapi, kopi dan gula aren, kerajinan bambu, serta pemanfaatan bahan limbah sebagai bagian dari atraksi Edu-Ecotour desa.

Artinya, alam bukan hanya menjadi latar belakang untuk berfoto.

Sawah berubah menjadi ruang belajar. Hasil pertanian menjadi bahan edukasi. Bambu menjadi kerajinan. Bahkan kebiasaan menjaga sumber air dapat diperkenalkan sebagai pelajaran mengenai konservasi lingkungan.

Konsep seperti inilah yang memberi karakter pada wisata Lerep.

Menikmati Alam di Lereng Gunung Ungaran

Lokasi Desa Lerep di lereng Gunung Ungaran memberikan keuntungan berupa bentang alam pedesaan dan suasana pegunungan.

Profil resmi Jadesta menyebut kawasan ini memiliki udara sejuk serta pemandangan alam yang menjadi salah satu modal pengembangan pariwisatanya.

Beberapa daya tarik alam yang diperkenalkan kepada wisatawan antara lain Curug Indrokilo, bentang persawahan, Sungai Pangus, serta kawasan yang menawarkan panorama dari bagian lebih tinggi desa.

Dinas Pariwisata Jawa Tengah juga mencantumkan Sunrise Puncak Ngipik sebagai bagian dari wisata alam Lerep.

Curug Indrokilo memberikan pengalaman yang berbeda dari objek wisata buatan. Perjalanan menuju kawasan alam semacam ini memberi kesempatan pengunjung menikmati vegetasi, udara terbuka, dan lanskap pedesaan.

Sementara sungai memberikan peluang kegiatan yang lebih aktif.

Jadesta mencatat susur sungai sebagai salah satu atraksi alam yang tersedia di Desa Wisata Lerep. Selain itu, terdapat kegiatan berkemah serta paket petualangan yang memperluas pilihan bagi pengunjung yang ingin menikmati alam dengan cara lebih aktif.

Dari Sawah Menjadi Ruang Belajar

Salah satu bagian paling menarik dari wisata alam Desa Lerep justru berada di lahan pertanian.

Pengunjung dapat mengikuti paket edukasi membajak sawah dan menanam padi. Aktivitas tersebut memungkinkan peserta melihat secara langsung pekerjaan yang menjadi bagian penting dari produksi pangan masyarakat pedesaan.

Bagi anak-anak yang tumbuh di kota, pengalaman ini bisa terasa sangat berbeda.

Nasi yang biasanya tinggal tersedia di meja makan ternyata berawal dari tanah, air, bibit, tenaga petani, serta proses panjang sebelum akhirnya dikonsumsi.

Belajar Sambil Turun ke Lumpur

Pembelajaran di sawah memiliki kelebihan karena peserta menggunakan pengalaman langsung.

Mereka dapat melihat bentuk bibit padi, merasakan kondisi lahan, memahami fungsi air, serta mengenal sebagian proses budidaya. Desa Lerep bahkan memiliki atraksi membajak sawah menggunakan kerbau sebagai bagian dari pengalaman wisatanya.

Wisata seperti ini membuat pertanian memiliki nilai tambahan.

Lahan tidak hanya menghasilkan komoditas, tetapi juga dapat menjadi ruang edukasi. Petani dan warga tidak semata-mata berada di belakang kegiatan wisata, melainkan dapat berbagi pengetahuan yang mereka miliki kepada pengunjung.

Edu-Eco Tour Menghubungkan Alam dengan Kehidupan Warga

Ekowisata Lerep terasa semakin menarik karena aktivitasnya tidak hanya berlangsung di sawah.

Program Edu-Eco Tour Desa Wisata Lerep menyediakan berbagai pilihan pengalaman seperti pengolahan susu, gula aren, kopi, kerajinan bambu, pemanfaatan limbah, dan aktivitas pertanian.

Jadesta juga menghubungkan paket ini dengan pilihan belajar musik gamelan, ecoprint, tari tradisional, olahan singkong, serta permainan tradisional.

Dari sinilah konsep wisata berbasis pengalaman terlihat.

Misalnya, wisatawan tidak hanya membeli makanan berbahan singkong. Mereka bisa mempelajari bagaimana hasil pertanian tersebut diolah.

Bambu juga tidak sekadar dilihat sebagai tanaman.

Pengunjung dapat mengenalnya sebagai bahan untuk kerajinan dan mencoba membuat produk sederhana. Begitu pula tumbuhan yang tersedia di sekitar desa dapat dimanfaatkan untuk kegiatan kreatif seperti ecoprint.

Pendekatan tersebut membuat perjalanan terasa lebih interaktif.

Alih-alih menghabiskan waktu dari satu spot foto ke spot berikutnya, wisatawan mendapatkan kesempatan untuk melakukan sesuatu, menghasilkan karya, dan memahami proses di baliknya.

Tradisi Iriban, Ketika Budaya Bertemu Konservasi Air

Salah satu contoh terbaik hubungan antara budaya dan lingkungan di Lerep adalah Tradisi Iriban.

Iriban merupakan kearifan lokal masyarakat yang berkaitan dengan pengelolaan sumber daya air.

Penelitian dari Universitas Negeri Semarang menjelaskan bahwa tradisi ini menjadi upaya masyarakat menjaga serta mempertahankan sumber air yang digunakan untuk kebutuhan rumah tangga dan pertanian.

Warga melakukan pembersihan sumber dan aliran air secara bersama-sama.

Artinya, konservasi di sini tidak hanya hadir dalam bentuk papan bertuliskan “jaga lingkungan”. Masyarakat benar-benar melakukan tindakan untuk menjaga sumber daya yang mereka gunakan.

Tradisi tersebut juga membawa nilai gotong royong.

Sumber air digunakan banyak orang, sehingga pemeliharaannya dilakukan bersama. Penelitian mengenai Iriban menempatkan kegiatan ini sebagai contoh kearifan lokal dalam pengelolaan sumber daya alam secara turun-temurun.

Bagi wisatawan, cerita Iriban memberikan pelajaran menarik: menjaga alam sebenarnya bisa menjadi bagian dari budaya sehari-hari.

Embung Sebligo dan Pemanfaatan Lanskap Desa

Selain wisata alam yang terbentuk secara alami, Desa Lerep juga memiliki Embung Sebligo, yang kemudian dikembangkan menjadi bagian dari aktivitas pariwisata.

Jadesta memasukkannya dalam daftar atraksi Desa Wisata Lerep sebagai Wahana Air Embung Sebligo.

Kawasan ini juga terhubung dengan aktivitas wisata kuliner.

Pasar Jajanan Ndeso Lerep berada di kawasan Embung Sebligo dan menjadi ruang bagi warga menjual makanan tradisional kepada wisatawan.

Kombinasi tersebut menarik karena menunjukkan bagaimana sebuah kawasan dapat mempunyai beberapa fungsi sekaligus.

Wisatawan dapat menikmati suasana lingkungan, lalu mengenal makanan lokal dan berinteraksi langsung dengan masyarakat.

Namun, pengembangan kawasan seperti embung juga menunjukkan bahwa ekowisata bukan berarti semua atraksinya harus benar-benar alami.

Yang jauh lebih penting adalah bagaimana pembangunan wisata tetap memperhatikan fungsi lingkungan, kapasitas kawasan, sampah, air, dan kepentingan masyarakat.

Jika keseimbangannya terjaga, wisata dapat memberikan manfaat tanpa membuat karakter desa hilang.

Budaya Lokal Membuat Ekowisata Lerep Lebih Berkarakter

Jika hanya mengandalkan pemandangan, banyak kawasan pegunungan di Indonesia mempunyai daya tarik serupa.

Yang membuat Lerep berbeda adalah budaya masyarakatnya.

Selain Iriban, Desa Lerep memiliki tradisi Kadeso, Sadranan, dan Gepuk Bumbung. Berbagai tradisi tersebut turut diperkenalkan sebagai bagian dari daya tarik wisata budaya desa.

Kesenian juga ikut berkembang menjadi bagian dari pengalaman wisata.

Jadesta mencantumkan Tari Caping Gangsing, wayang, pawai obor, permainan tradisional, kerajinan, serta berbagai produk budaya lainnya dalam daftar atraksi Lerep.

Hubungan antara budaya dan ekowisata cukup penting.

Wisatawan yang datang ke lingkungan pedesaan tidak hanya perlu mengetahui seperti apa bentuk alamnya. Mereka juga dapat mengenal bagaimana masyarakat hidup bersama alam tersebut.

Tradisi menjaga air, makanan dari hasil pertanian, kerajinan dari bambu, sampai tari yang mengambil inspirasi dari kehidupan petani membuat pengalaman wisata terasa lebih memiliki konteks.

Kuliner Lokal Ikut Menggerakkan Ekonomi Desa

Aktivitas ekowisata tentu lebih menarik jika manfaat ekonominya tidak berhenti pada tiket masuk.

Di Lerep, salah satu ruang ekonomi masyarakat terlihat melalui Pasar Jajanan Ndeso, yang menghadirkan makanan dan minuman tradisional. Pasar ini menjadi bagian dari produk wisata desa sekaligus ruang bagi warga untuk menjual hasil olahan lokal.

Makanan khas seperti Sego Iriban juga mempunyai hubungan langsung dengan budaya dan lingkungan masyarakat.

Hidangan tersebut berkembang dari Tradisi Iriban, lalu semakin dikenal melalui aktivitas wisata. Ini menunjukkan bagaimana satu kegiatan konservasi dapat terhubung dengan budaya, kuliner, dan ekonomi lokal.

Kajian IPB mengenai pengembangan Desa Wisata Lerep menyebut potensi alam, budaya, kuliner, dan kearifan lokal sebagai unsur penting yang dapat dikembangkan secara terpadu.

Pola seperti ini membuat uang wisatawan berpotensi berputar lebih luas.

Pengunjung bisa menggunakan jasa pemandu, membeli makanan, mengikuti workshop, membawa pulang kerajinan, atau menginap melalui paket live in. Jadesta sendiri mencantumkan paket One Day & Live In sebagai bagian dari produk wisata Lerep.

Keterlibatan Masyarakat Menjadi Kunci

Ekowisata berbasis desa akan sulit bertahan jika masyarakat lokal hanya menjadi penonton.

Pengembangan Desa Wisata Lerep sejak awal melibatkan pemerintah desa, kelompok sadar wisata, BUMDes, serta masyarakat.

Kajian mengenai pengembangan Lerep juga mencatat bahwa pendekatan wisata berbasis kearifan lokal mengikutsertakan warga dalam proses pengembangan dan pelaksanaan kegiatan.

Penelitian Universitas Diponegoro tahun 2023 menemukan partisipasi masyarakat dalam tahap pelaksanaan dan pengambilan manfaat sudah tergolong aktif, meskipun keterlibatan dalam pengambilan keputusan dan evaluasi masih memiliki ruang untuk diperkuat.

Temuan tersebut penting karena menunjukkan bahwa desa wisata tetap mempunyai tantangan.

Keberhasilan tidak cukup hanya diukur dari banyaknya atraksi atau wisatawan. Pengelolaan yang berkelanjutan juga perlu memastikan warga memiliki kesempatan memberikan masukan, mendapat manfaat ekonomi, dan ikut menentukan arah pengembangan.

Semakin kuat rasa memiliki masyarakat, semakin besar peluang lingkungan dan budaya desa ikut dijaga.

Tips Menikmati Ekowisata Lerep dengan Lebih Bertanggung Jawab

Berwisata ke desa sebaiknya sedikit berbeda dengan berkunjung ke taman hiburan.

Pengunjung memasuki ruang yang juga menjadi tempat tinggal dan bekerja masyarakat. Karena itu, kegiatan wisata perlu menghormati kebun, sawah, sumber air, fasilitas umum, serta tradisi yang masih digunakan warga.

Gunakan kembali botol minum bila memungkinkan, jangan meninggalkan sampah di sungai atau jalur alam, dan hindari mengambil tanaman tanpa izin.

Untuk kegiatan pertanian, workshop, susur sungai, atau paket edukasi, lebih baik mengikuti arahan pemandu karena aktivitas tersebut dikelola sebagai bagian dari produk wisata desa.

Jika membeli makanan atau suvenir, pilih produk buatan warga.

Tindakan sederhana tersebut membantu mempertahankan salah satu prinsip penting wisata berbasis masyarakat: pengunjung memperoleh pengalaman, sementara masyarakat lokal mendapatkan manfaat langsung dari keberadaan pariwisata.

Kajian mengenai Lerep menunjukkan pengembangan berbasis kearifan lokal dan partisipasi warga menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan desa wisata.

Masa Depan Ekowisata Desa Lerep

Lerep mempunyai modal yang cukup lengkap untuk terus mengembangkan wisata berkelanjutan.

Ada bentang alam, pertanian, air, budaya, kerajinan, kuliner, dan masyarakat yang terlibat dalam kegiatan wisata. Kombinasi tersebut memungkinkan desa mengembangkan pariwisata tanpa harus sepenuhnya bergantung pada pembangunan wahana baru.

Tantangannya adalah menjaga keseimbangan.

Semakin banyak wisatawan berarti semakin besar pula kebutuhan terhadap fasilitas, air, tempat parkir, pengelolaan sampah, keamanan aktivitas alam, dan perlindungan terhadap tradisi lokal.

Karena itu, arah paling menarik bagi Lerep bukan sekadar mengejar jumlah pengunjung.

Pengalaman wisata dapat diperkuat melalui edukasi lingkungan, pembatasan aktivitas pada kawasan yang sensitif jika diperlukan, regenerasi pemandu lokal, pengelolaan sampah yang lebih baik, serta penguatan peran warga dalam evaluasi pariwisata.

Kebutuhan memperkuat partisipasi masyarakat, terutama dalam tahap pengambilan keputusan dan evaluasi, juga muncul dalam kajian akademis mengenai Desa Wisata Lerep.

Dengan pendekatan seperti itu, alam tetap menjadi aset desa, bukan korban dari keberhasilan pariwisata.

Ekowisata di Desa Lerep lereng Gunung Ungaran menawarkan pengalaman yang menarik karena alam, pertanian, budaya, dan kehidupan masyarakat hadir dalam satu kawasan.

Wisatawan dapat mengenal Curug Indrokilo dan Sungai Pangus, mengikuti aktivitas pertanian, belajar kerajinan, hingga memahami Tradisi Iriban yang digunakan masyarakat untuk menjaga sumber daya air.

Kekuatan Lerep bukan sekadar pemandangannya, tetapi bagaimana potensi desa dikembangkan menjadi pengalaman edukatif yang melibatkan masyarakat.

Model tersebut membuat perjalanan terasa lebih dekat dengan kehidupan lokal sekaligus membuka peluang ekonomi bagi warga. Kalau ingin menikmati Gunung Ungaran dari perspektif berbeda, cobalah menjelajahi Desa Wisata Lerep.

Jangan sekadar datang untuk berfoto-ikuti kegiatan warga, cicipi pangan lokal, pelajari tradisinya, dan tinggalkan lingkungan dalam kondisi sebaik saat kamu datang.

FAQ

1. Di mana Desa Wisata Lerep berada?

Desa Lerep berada di Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, di kawasan lereng Gunung Ungaran.

2. Apa saja wisata alam yang ada di Desa Lerep?

Beberapa yang tercatat antara lain Curug Indrokilo, Sungai Pangus, Sunrise Puncak Ngipik, bentang persawahan, aktivitas susur sungai, dan kawasan Embung Sebligo.

3. Apa yang bisa dipelajari dalam Edu-Eco Tour Lerep?

Kegiatan yang ditawarkan mencakup pertanian, peternakan, pengolahan susu, kopi dan gula aren, kerajinan bambu, pemanfaatan limbah, ecoprint, olahan singkong, serta berbagai aktivitas kreatif lainnya.

4. Apa hubungan Tradisi Iriban dengan ekowisata?

Iriban merupakan kearifan lokal masyarakat untuk membersihkan dan menjaga sumber daya air bagi kebutuhan rumah tangga serta pertanian. Karena memiliki nilai konservasi dan budaya, tradisi tersebut relevan sebagai bagian dari wisata edukasi lingkungan Lerep.

5. Apakah Desa Lerep cocok untuk wisata keluarga dan pelajar?

Ya. Produk wisatanya mencakup kegiatan edukasi pertanian, kerajinan, budaya, permainan, serta Edu-Eco Tour yang dapat digunakan untuk pengalaman belajar di luar kelas.