Pasar Jajanan Ndeso Lerep, Wisata Kuliner Tempo Dulu yang Unik

Bagaimana rasanya berbelanja makanan tanpa uang rupiah langsung, makan dengan wadah daun, mendengarkan gamelan, lalu menikmati suasana pedesaan berlatar Gunung Ungaran?

Pengalaman seperti inilah yang menjadi daya tarik Pasar Jajanan Ndeso Lerep, salah satu wisata kuliner unik di Desa Wisata Lerep, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang.

Pasar ini memang sengaja membawa pengunjung kembali ke nuansa tempo dulu. Para pedagang mengenakan pakaian tradisional, makanan disajikan menggunakan daun dan bambu, sementara transaksi dilakukan memakai koin khusus yang harus ditukar terlebih dahulu.

Menu yang dijual pun jauh dari kesan makanan kekinian. Ada Sego Iriban, Sego Tonjok, Bubur Suweg, Dawet Nganten, Krowodan Udan Angin, hingga berbagai jajanan yang semakin jarang ditemukan sehari-hari.

Karena konsepnya tersebut, Pasar Jajanan Ndeso bukan sekadar tempat mencari sarapan. Pasar ini menjadi ruang bertemunya kuliner, pertanian, budaya, pemberdayaan masyarakat, dan wisata berkelanjutan dalam suasana khas lereng Gunung Ungaran.

Mengenal Pasar Jajanan Ndeso Lerep

Nama lengkapnya sering ditulis sebagai Pasar Kuliner Jajanan Ndeso “Tempo Doeloe” atau Pasar Djadjanan Ndeso Tempo Doeloe. Lokasinya berada di kawasan Desa Wisata Lerep, tepatnya di sekitar Kompleks Embung Sebligo, Ungaran Barat.

Konsep utama pasar ini adalah menghadirkan makanan dan minuman tradisional dengan suasana yang sengaja dibuat sedekat mungkin dengan kehidupan desa zaman dahulu.

Menurut Jadesta Kementerian Pariwisata, puluhan menu makanan dan minuman dibuat menggunakan bahan lokal dan alami serta diolah secara tradisional. Penyajiannya pun menggunakan material seperti daun dan bambu.

Bukan hanya makanannya yang dibuat tradisional. Para pedagang dan pengelola mengenakan pakaian bernuansa Jawa seperti lurik, batik, udeng, dan pakaian tradisional lainnya. Alunan musik gamelan juga ikut memperkuat suasana pasar.

Hasilnya, pengunjung seolah tidak sekadar mendatangi sentra kuliner, tetapi masuk ke sebuah ruang pengalaman budaya.

Jajanan Tradisional yang Sulit Ditemukan di Tempat Lain

Bagian paling menarik tentu saja makanannya. Pasar Jajanan Ndeso Lerep menghadirkan sejumlah menu dengan nama yang bahkan mungkin terdengar asing bagi wisatawan dari luar daerah.

Jadesta mencatat beberapa makanan dan minuman seperti Sego Iriban, Sego Tonjok, Dawet Nganten, Krowodan Udan Angin, Awur Ceplus, Wedang Pala, Gatot, Tiwul, Cetil, Bubur Suweg, hingga berbagai sajian tradisional lainnya.

Sumber lain juga mencatat pecel, bubur tumpang, kerupuk gendar, lodhek, dan serabi caonan sebagai bagian dari ragam kuliner yang dapat ditemui di pasar ini.

Sego Iriban, Salah Satu Menu yang Paling Menarik

Dari sekian banyak makanan tersebut, Sego Iriban punya cerita khusus.

Menurut profil resmi Pasar Jajanan Ndeso di Jadesta, hidangan ini menggunakan ayam panggang yang dicincang dan dipadukan dengan urap daun-daunan.

Proses pengolahannya berkaitan dengan teknik dilemeng, yakni bahan dimasukkan ke dalam bambu kemudian dibakar. Menariknya, Sego Iriban awalnya berkaitan dengan Tradisi Iriban, kegiatan masyarakat dalam menjaga dan membersihkan sumber air.

Makanan tersebut secara tradisional hadir pada momen tertentu, tetapi kemudian ikut disajikan di Pasar Jajanan Ndeso karena diminati pengunjung.

Inilah salah satu alasan wisata kuliner Lerep terasa berbeda. Makanan tidak hanya dijual karena rasanya, tetapi juga membawa cerita tentang tradisi masyarakat.

Belanja Menggunakan Koin, Bukan Rupiah Langsung

Salah satu pengalaman paling ikonik di Pasar Jajanan Ndeso Lerep adalah sistem transaksinya.

Sebelum membeli makanan, pengunjung terlebih dahulu menukarkan uang rupiah dengan alat pembayaran khusus. Jadesta mencatat nominal alat transaksi pasar mulai sekitar Rp2.500 hingga Rp10.000.

Dalam profil paket wisata, alat transaksi tersebut dijelaskan menggunakan bahan dari tempurung kelapa, sementara halaman atraksi menyebutnya sebagai koin kayu.

Setelah memperoleh koin, barulah pengunjung berkeliling memilih makanan.

Konsep ini terdengar sederhana, tetapi efeknya cukup besar terhadap pengalaman wisata. Aktivitas membeli jajanan yang biasanya biasa-biasa saja berubah menjadi sesuatu yang menyenangkan, terutama bagi anak-anak.

Koin tradisional juga membantu menciptakan kesan bahwa pengunjung sedang berada di pasar pada masa yang berbeda.

Nilai rupiahnya tetap mudah dipahami, tetapi proses transaksinya dibuat lebih menarik dan sesuai dengan tema tempo dulu.

Konsep Ramah Lingkungan dengan Daun dan Bambu

Nuansa jadul di Pasar Lerep tidak berhenti pada dekorasi. Cara makanan dikemas juga menjadi bagian penting dari konsepnya.

Jadesta menjelaskan bahwa jajanan menggunakan kemasan bernuansa go green seperti daun dan anyaman bambu.

Liputan mengenai pasar ini juga mencatat pemanfaatan daun jati, daun pisang, daun aren, batok kelapa, bambu, wadah tanah liat, hingga sendok kayu sebagai pengganti berbagai perlengkapan sekali pakai.

Pendekatan tersebut sesuai dengan karakter Desa Wisata Lerep yang mengembangkan pariwisata berbasis lingkungan dan kearifan lokal.

Dari sisi visual, penggunaan daun dan bambu juga membuat makanan terasa lebih menyatu dengan tema pedesaan. Seporsi nasi yang dibungkus daun tentu memberikan pengalaman berbeda dibandingkan makanan yang disajikan dalam wadah plastik modern.

Konsep semacam ini sekaligus mempunyai nilai edukasi.

Pengunjung bisa melihat bahwa menikmati wisata kuliner tidak harus menghasilkan banyak sampah kemasan sekali pakai.

Suasana Tempo Dulu yang Dibangun dengan Serius

Mengapa Pasar Jajanan Ndeso bisa terasa berbeda meskipun pada dasarnya tetap sebuah pasar makanan? Jawabannya ada pada detail pengalaman.

Pedagang dengan lurik dan batik, bangunan bernuansa bambu, wadah tradisional, koin khusus, makanan desa, serta musik gamelan bekerja bersama menciptakan suasana yang konsisten.

Lokasinya juga memberikan nilai tambah.

Pasar berada di kawasan Embung Sebligo dengan suasana pedesaan dan panorama Gunung Ungaran. Kondisi tersebut membuat kegiatan sarapan atau mencicipi jajanan dapat sekaligus menjadi bagian dari rekreasi keluarga.

Konsep seperti ini menunjukkan bahwa wisata kuliner sebenarnya tidak hanya soal rasa.

Makanan yang sama dapat menghasilkan pengalaman yang jauh lebih menarik ketika mempunyai cerita, cara penyajian, lingkungan, serta interaksi sosial yang khas.

Bagi pengunjung yang menyukai fotografi, suasana tradisional tersebut juga menawarkan banyak objek menarik tanpa harus membangun dekorasi wisata yang terlalu modern.

Pasar Kuliner sebagai Ruang Ekonomi bagi Warga Lerep

Pasar Jajanan Ndeso juga mempunyai fungsi ekonomi yang penting.

Penelitian mengenai pemberdayaan masyarakat di Lerep mencatat bahwa warga terlibat dalam berbagai unit usaha desa, termasuk pasar kuliner, homestay, peternakan, katering, dan pariwisata.

Pengembangan potensi tersebut dikelola melalui kerja sama masyarakat, BUMDes, Pokdarwis, dan pemerintah desa.

Penelitian tahun 2024 yang khusus menganalisis unit usaha Pasar Kuliner BUM Desa Lerep bahkan menyimpulkan bahwa usaha pasar tersebut layak dijalankan berdasarkan penilaian terhadap aspek pasar, manajemen, teknis, lingkungan, hukum, dan keuangan.

Efeknya dapat berkembang lebih luas daripada transaksi makanan pada hari pasar.

Lerep juga memiliki kelompok UMKM yang memproduksi tumpi, tempe keripik, rempeyek, dan aneka keripik.

Sebuah kajian Politeknik Negeri Semarang mencatat Dusun Karangbolo dikembangkan sebagai salah satu pusat oleh-oleh Desa Wisata Lerep, dengan produksi makanan yang banyak dilakukan warga secara tradisional.

Artinya, wisata kuliner dapat menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan lebih banyak produk buatan masyarakat.

Pengunjung datang untuk sarapan, tetapi mereka juga berpotensi membeli oleh-oleh dan mengenal usaha lokal lainnya.

Kapan Pasar Jajanan Ndeso Lerep Digelar?

Hal ini penting diketahui sebelum berangkat karena Pasar Jajanan Ndeso bukan pasar yang buka setiap hari.

Informasi Jadesta yang tersedia saat ini menyebut pasar digelar pada Minggu Pon, sementara kajian IPB mengenai pengembangan Desa Wisata Lerep juga mencatat Pasar Jajanan Ndeso Tempo Dulu hadir pada Minggu Pon pagi atau sekitar sekali dalam siklus 35 hari kalender Jawa.

Ada halaman promosi pariwisata Jawa Tengah yang menggunakan keterangan lebih umum bahwa pasar hadir pada Minggu pagi.

Karena informasi jadwal dapat berubah, pengunjung sebaiknya mengecek kanal resmi Desa Wisata Lerep sebelum melakukan perjalanan khusus untuk datang ke pasar.

Jadesta juga mencantumkan bahwa tidak ada tiket khusus untuk memasuki pasar, meski terdapat biaya parkir kendaraan.

Nominal yang tercantum di halaman paket merupakan informasi yang dapat berubah, sehingga lebih aman menjadikannya sebagai gambaran daripada patokan mutlak saat berkunjung.

Datang pada pagi hari menjadi pilihan yang masuk akal agar pilihan jajanan masih beragam sekaligus bisa menikmati suasana pasar dengan lebih santai.

Mengapa Pasar Jajanan Ndeso Layak Dikunjungi?

Pasar tradisional sebenarnya banyak ditemukan di Jawa Tengah. Namun, Pasar Jajanan Ndeso mempunyai kombinasi yang cukup lengkap.

Ada makanan tradisional, sistem transaksi unik, nuansa Jawa, pendekatan ramah lingkungan, panorama pedesaan, serta keterlibatan masyarakat lokal.

Penelitian tentang pengembangan Desa Wisata Lerep juga menempatkan pasar ini sebagai bagian penting dari wisata kuliner berbasis kearifan lokal.

Bagi keluarga, pasar dapat menjadi tempat mengenalkan anak pada makanan dan budaya tradisional.

Bagi pencinta kuliner, daya tariknya terletak pada kesempatan mencicipi menu yang semakin sulit ditemukan di restoran modern.

Sementara bagi wisatawan yang tertarik pada desa wisata, Pasar Jajanan Ndeso memberikan contoh bagaimana kegiatan ekonomi sederhana bisa dikemas menjadi atraksi tanpa harus meninggalkan identitas masyarakat.

Inilah yang membuat pengalaman makan di Lerep mempunyai cerita lebih panjang daripada sekadar soal kenyang.

Pasar Jajanan Ndeso Lerep menjadi salah satu wajah menarik wisata kuliner di lereng Gunung Ungaran.

Pasar ini memadukan makanan tradisional seperti Sego Iriban, Sego Tonjok, Bubur Suweg, dan Dawet Nganten dengan suasana tempo dulu, pakaian tradisional, gamelan, wadah alami, serta transaksi menggunakan koin khusus.

Lebih penting lagi, pasar menjadi bagian dari pemberdayaan masyarakat dan pengembangan ekonomi Desa Wisata Lerep. Kajian tentang BUM Desa bahkan menilai unit usaha pasar kulinernya layak untuk terus dikembangkan.

Jika ingin merasakan wisata kuliner yang tidak sekadar berburu makanan, datanglah saat Pasar Jajanan Ndeso digelar.

Cicipi hidangan yang belum pernah dicoba, nikmati suasana Embung Sebligo, dan jangan lupa membeli produk warga sebagai oleh-oleh. Sebelum berangkat, cek kembali jadwal Minggu Pon terbaru melalui kanal resmi Desa Wisata Lerep.

FAQ

1. Di mana Pasar Jajanan Ndeso Lerep berada?

Pasar berada di kawasan Desa Wisata Lerep, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang, dan dikaitkan dengan Kompleks Embung Sebligo.

2. Kapan Pasar Jajanan Ndeso Lerep buka?

Informasi resmi Jadesta menyebut pasar diselenggarakan pada Minggu Pon. Karena kalender kegiatan dapat berubah, cek informasi terbaru dari pengelola sebelum datang.

3. Apa makanan khas yang bisa dicoba?

Beberapa menu yang disebutkan antara lain Sego Iriban, Sego Tonjok, Bubur Suweg, Tiwul, Gatot, Krowodan Udan Angin, Dawet Nganten, dan Wedang Pala.

4. Mengapa pembayarannya menggunakan koin?

Koin khusus merupakan bagian dari konsep pasar tempo dulu. Pengunjung menukarkan rupiah terlebih dahulu lalu menggunakan koin tersebut untuk bertransaksi dengan pedagang.

5. Apakah Pasar Jajanan Ndeso menggunakan plastik?

Konsep pasar menekankan penggunaan kemasan alami seperti daun, bambu, batok kelapa, dan material tradisional lain untuk mengurangi penggunaan kemasan plastik.