Mengenal Tradisi Iriban Desa Lerep, Warisan untuk Menjaga Mata Air

Air bagi masyarakat desa bukan hanya kebutuhan untuk minum dan memasak. Air juga menghidupi sawah, kebun, ternak, dan berbagai aktivitas sehari-hari.

Karena itulah, di Desa Lerep, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang, menjaga sumber air telah berkembang menjadi tradisi yang diwariskan lintas generasi.

Tradisi tersebut dikenal sebagai Tradisi Iriban Desa Lerep. Warga berkumpul dan berjalan menuju kawasan sumber mata air, membersihkan aliran air serta lingkungan sekitarnya, kemudian mengikuti doa dan makan bersama.

Dalam perkembangannya, Iriban juga dilengkapi kirab, kesenian, dan berbagai unsur budaya yang membuatnya semakin menarik untuk dikenalkan kepada wisatawan.

Menariknya, Iriban tidak hanya berbicara tentang ritual atau acara tahunan. Tradisi ini menunjukkan cara masyarakat menggabungkan gotong royong dengan konservasi sumber daya air.

Karena itu, memahami Iriban berarti mengenal salah satu bentuk kearifan lokal Lerep yang mempertemukan budaya, alam, kehidupan pertanian, kuliner, dan kebersamaan masyarakat dalam satu rangkaian kegiatan.

Apa Itu Tradisi Iriban Desa Lerep?

Secara sederhana, Iriban adalah tradisi masyarakat Desa Lerep untuk membersihkan dan merawat sumber mata air serta aliran air yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat maupun mengairi lahan pertanian.

Penelitian dari Departemen Geografi Universitas Negeri Semarang menempatkan Iriban sebagai bentuk kearifan lokal dalam pengelolaan dan pelestarian sumber daya air.

Kegiatan tersebut melibatkan warga, tokoh masyarakat, sesepuh, dan perangkat desa. Mereka bersama-sama membersihkan sampah maupun material yang berpotensi mengganggu aliran air.

Dalam penelitian tersebut, mata air Si Udel dan Si Domble, yang berada di kawasan Dusun Soka dan Dusun Lerep, disebut sebagai dua sumber yang terkait dengan pelaksanaan Iriban.

Sumber lain mengenai kegiatan wisata Lerep juga mengenalkan Wangan Cenginging sebagai lokasi penting penyelenggaraan tradisi.

Wangan Cenginging sendiri dikenal sebagai kawasan pertemuan aliran air di lingkungan Lerep. Di sinilah masyarakat berkumpul untuk menjalankan rangkaian pembersihan sumber air sekaligus kegiatan budaya.

Asal-Usul dan Makna Tradisi Iriban

Tidak semua detail mengenai awal mula Iriban tercatat dalam dokumen sejarah yang lengkap. Sebagian pengetahuan tentang tradisi ini diwariskan melalui cerita masyarakat dari generasi ke generasi.

Kajian mengenai Iriban menyebut tradisi tersebut sebagai warisan dari generasi terdahulu yang terus dipertahankan karena sumber air mempunyai peranan besar dalam kehidupan masyarakat Lerep.

Menariknya, terdapat pula variasi penjelasan mengenai asal istilahnya. Penelitian tahun 2024 mencatat bahwa Iriban dikaitkan dengan kata irib, yang merujuk pada sesuatu yang diteruskan atau dilakukan menyerupai kebiasaan generasi terdahulu.

Sumber media lokal lain menyebut istilah irib-irib dengan pengertian ngurip-urip, atau kurang lebih menjaga agar sesuatu tetap hidup.

Apa pun versi etimologinya, inti tradisinya relatif konsisten: menjaga keberlangsungan air yang menghidupi masyarakat.

Pesan tersebut terasa sangat praktis. Jika mata air dan salurannya tidak dirawat, kebutuhan rumah tangga dan pertanian dapat terganggu. Karena itu, kegiatan budaya berjalan berdampingan dengan tindakan nyata menjaga lingkungan.

Kapan Tradisi Iriban Dilaksanakan?

Sumber resmi Desa Wisata Lerep menyebut Iriban Wangan Cenginging dilakukan setahun sekali pada hari Rabu Kliwon, dengan profil Jadesta mengaitkannya dengan bulan Rajab.

Warga berkumpul di kawasan mata air untuk melaksanakan kegiatan bersih aliran air. Namun, dokumentasi mengenai waktu pelaksanaan menunjukkan variasi.

Sejumlah laporan pada tahun berbeda menyebut penyelenggaraan pada bulan Safar, sementara penelitian akademis mencatat pembersihan sumber air juga dapat dilakukan menjelang masa tanam padi atau ketika keadaan lingkungan membutuhkannya.

Bahkan ketika terjadi longsor di sekitar mata air, masyarakat dapat bergotong royong membersihkannya tanpa menunggu acara seremonial tahunan.

Karena itu, lebih tepat memahami Rabu Kliwon sebagai penanda tradisional yang kuat, sementara bulan maupun waktu kegiatan lapangan dapat mengikuti kesepakatan masyarakat dan kondisi setempat.

Bagi wisatawan yang ingin menyaksikan Iriban, mengecek kalender kegiatan terbaru Desa Wisata Lerep sebelum berkunjung menjadi pilihan paling aman.

Prosesi Iriban Dimulai dengan Berjalan Menuju Sumber Air

Salah satu bagian menarik dari Tradisi Iriban adalah perjalanan masyarakat menuju kawasan sumber mata air.

Menurut paket Budaya Iriban yang dimuat Jadesta, warga berjalan beriringan menuju lokasi sambil membawa nasi, sayur gudangan, lauk, buah-buahan, dan jajanan tradisional.

Wadah makanan pun menggunakan material alami, termasuk anyaman daun aren, sedangkan kendi dan bambu dimanfaatkan untuk kebutuhan minum.

Suasana tersebut membuat perjalanan menuju sumber air bukan sekadar perpindahan tempat.

Warga datang sebagai bagian dari kegiatan bersama. Makanan dibawa, peralatan disiapkan, dan berbagai generasi ikut terlibat.

Membersihkan Aliran dan Lingkungan Mata Air

Sesampainya di lokasi, salah satu kegiatan utama adalah membersihkan sumber dan aliran air.

Sampah, daun, tanah, atau material lain yang menghambat aliran dibersihkan bersama. Penelitian mengenai Iriban menyebut praktik ini sebagai bagian nyata dari pengelolaan sumber daya air masyarakat.

Selain membersihkan sumber, warga juga memperhatikan distribusi air untuk pertanian dan lingkungan di sekitar infrastruktur air desa.

Inilah yang membedakan Iriban dari festival budaya biasa. Di balik seremoni dan keramaian, terdapat pekerjaan konservasi yang benar-benar dilakukan.

Ritual, Doa, dan Makan Bersama dalam Iriban

Setelah kegiatan pembersihan, rangkaian Iriban juga memiliki unsur ritual dan selamatan.

Kajian akademis mencatat adanya praktik penyembelihan unggas dalam rangkaian tradisi, kemudian dagingnya dimasak untuk disantap bersama setelah kegiatan membersihkan sumber air selesai. Selanjutnya, masyarakat dan sesepuh mengikuti doa bersama sebagai bagian dari selamatan.

Praktik ritual dapat mengalami penyesuaian dari waktu ke waktu, sehingga bentuk penyelenggaraan pada setiap tahun tidak harus selalu identik.

Yang relatif tetap adalah unsur kebersamaan.

Setelah bekerja membersihkan aliran, masyarakat berkumpul dan menikmati makanan yang telah disiapkan. Momen ini menjadi ruang sosial yang mempertemukan warga sekaligus memperkuat hubungan antargenerasi.

Pola semacam ini mudah ditemukan dalam berbagai tradisi Jawa: pekerjaan bersama diikuti doa, rasa syukur, kemudian makan bersama.

Di Lerep, rangkaian tersebut mempunyai konteks yang sangat jelas-air sebagai sumber kehidupan yang perlu dijaga secara kolektif.

Sego Iriban, Kuliner yang Lahir Bersama Tradisinya

Membahas Tradisi Iriban terasa belum lengkap tanpa mengenal Sego Iriban.

Kuliner ini pada awalnya erat dengan momen pelaksanaan tradisi. Jadesta bahkan menjelaskan bahwa Sego Iriban pada dasarnya hanya bisa diperoleh ketika acara Iriban berlangsung, sebelum akhirnya turut dijual kepada wisatawan karena banyak diminati.

Sego Iriban terdiri dari nasi dengan gudangan atau urap sayuran serta aneka lauk tradisional. Salah satu keunikannya berada pada cara memasak sebagian sayuran dengan teknik dilemeng, yaitu dimasukkan ke dalam bambu kemudian dimasak menggunakan panas api.

Sayuran yang terdokumentasi antara lain daun pepaya dan daun singkong. Beberapa penyajian juga menggunakan daun kopi, sedangkan lauknya dapat berupa tempe bacem, ikan asin, telur, bagian ayam, dan ayam bakar yang dicincang.

Dahulu, makanan ini terutama dinikmati warga dalam konteks tradisi. Sekarang Sego Iriban ikut hadir di Pasar Jajanan Ndeso Desa Wisata Lerep.

Perubahan tersebut menunjukkan bagaimana makanan ritual atau tradisional dapat memperoleh fungsi baru sebagai kuliner khas destinasi, tanpa harus kehilangan cerita mengenai asal-usulnya.

Gotong Royong Menjadi Jiwa Tradisi Iriban

Kalau harus memilih satu nilai yang paling mudah terlihat dalam Iriban, jawabannya adalah gotong royong.

Membersihkan kawasan sumber mata air tentu akan lebih berat jika dilakukan hanya oleh beberapa orang. Dengan keterlibatan masyarakat, pekerjaan dapat diselesaikan sekaligus menjadi momentum memperkuat kepedulian bersama.

Penelitian mengenai Iriban menemukan bahwa partisipasi masyarakat dalam mempertahankan tradisi tergolong tinggi. Warga memahami bahwa sumber air tersebut digunakan untuk kehidupan mereka sendiri, baik untuk kebutuhan rumah tangga maupun pertanian.

Artinya, konservasi tidak sepenuhnya bergantung pada instruksi pemerintah.

Ada kesadaran sosial yang tumbuh karena masyarakat memahami hubungan langsung antara menjaga lingkungan dan keberlangsungan kehidupan sehari-hari.

Nilai seperti ini sangat relevan untuk generasi sekarang.

Isu lingkungan terkadang terdengar rumit ketika dibahas dalam istilah ilmiah. Iriban menunjukkan konsep konservasi dalam bentuk yang sederhana: sumber air yang dipakai bersama juga harus dirawat bersama.

Iriban sebagai Bentuk Kearifan Lokal Konservasi Air

Salah satu alasan Tradisi Iriban menarik dipelajari adalah karena kegiatan budaya dan konservasi berjalan secara bersamaan.

Penelitian Universitas Negeri Semarang menilai Iriban mempunyai kontribusi dalam menjaga sumber mata air melalui pembersihan, pemeliharaan, dan pengaturan pemanfaatan air. Praktik tersebut membantu mempertahankan fungsi sumber bagi kebutuhan masyarakat dan pertanian.

Dalam kehidupan modern, kegiatan seperti membersihkan sungai mungkin disebut program konservasi lingkungan.

Di Lerep, tindakan serupa telah dimasukkan ke dalam kerangka tradisi sehingga masyarakat mempunyai alasan sosial dan budaya untuk terus melakukannya.

Pendekatan tersebut memiliki kelebihan.

Ketika suatu tindakan menjadi bagian dari identitas masyarakat, pelaksanaannya tidak hanya bergantung pada proyek jangka pendek. Generasi yang lebih tua dapat mengenalkannya kepada anak muda melalui pengalaman langsung.

Anak-anak melihat orang tua membersihkan sumber. Pemuda ikut membantu kegiatan. Sesepuh menjelaskan maknanya. Dari situlah pengetahuan ekologis diwariskan secara sosial.

Dari Tradisi Masyarakat Menjadi Atraksi Desa Wisata

Setelah Lerep berkembang sebagai desa wisata, Iriban mendapatkan fungsi tambahan sebagai bagian dari wisata budaya dan edukasi.

Jadesta telah mencantumkan Budaya Iriban sebagai salah satu produk wisata Desa Lerep. Penelitian tentang pemberdayaan ekonomi melalui BUMDes juga memasukkan Iriban dalam potensi wisata budaya yang diperkenalkan kepada pengunjung.

Dalam penyelenggaraan yang lebih baru, unsur budaya bahkan dapat mencakup kirab hasil bumi dan pertunjukan seni.

Kalender pariwisata Jawa Tengah untuk Tradisi Budaya Iriban Cenginging, misalnya, menggambarkan prosesi berupa pembersihan aliran air yang dilanjutkan kirab hasil bumi dan upacara budaya.

Potensi wisatanya cukup kuat karena pengunjung tidak sekadar menonton kesenian.

Mereka bisa mempelajari bagaimana masyarakat menjaga air, mengenal makanan tradisional, melihat gotong royong, sekaligus memahami hubungan antara budaya dengan lingkungan.

Namun, ada batas yang perlu dijaga.

Iriban pada dasarnya adalah tradisi masyarakat, bukan pertunjukan yang semata-mata diciptakan untuk wisatawan. Karena itu, pengembangan pariwisata sebaiknya tetap menempatkan kepentingan warga, nilai budaya, dan kelestarian sumber air sebagai prioritas.

Tradisi Iriban Mengajarkan Hubungan Manusia dan Alam

Pesan terpenting dari Iriban sebenarnya cukup sederhana: manusia bergantung pada alam.

Air dari sumber digunakan untuk kehidupan. Pertanian membutuhkan aliran yang cukup. Lingkungan yang rusak dapat memengaruhi keberadaan air tersebut.

Karena itu, masyarakat tidak hanya mengambil manfaat, tetapi juga mempunyai tanggung jawab untuk merawatnya.

Konsep tersebut menjadi salah satu alasan Iriban menarik sebagai materi wisata edukasi.

Pelajar dapat belajar mengenai siklus air, konservasi, pertanian, budaya, hingga kehidupan sosial dalam satu pengalaman. Mereka tidak hanya melihat diagram mengenai pelestarian lingkungan di buku, tetapi menyaksikan bagaimana masyarakat melakukannya melalui tradisi.

Bagi wisatawan umum, Iriban juga memberikan sudut pandang berbeda mengenai Desa Lerep.

Daya tarik desa ternyata bukan hanya pemandangan pegunungan atau objek wisata. Tradisi, makanan, dan kebiasaan masyarakat dalam menjaga sumber daya lokal justru menjadi bagian penting dari identitas destinasi tersebut.

Tradisi Iriban Desa Lerep merupakan contoh menarik bagaimana warisan budaya dapat memiliki fungsi yang sangat praktis.

Tradisi ini mengajak masyarakat bergotong royong membersihkan dan merawat sumber mata air yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari serta pertanian.

Rangkaian kegiatannya berkembang dari pembersihan aliran air, doa dan selamatan, makan bersama, hingga unsur kirab dan kesenian dalam penyelenggaraan tertentu.

Iriban juga melahirkan kuliner khas seperti Sego Iriban dan kini menjadi salah satu pengalaman budaya yang diperkenalkan melalui Desa Wisata Lerep.

Jika berkesempatan mengunjungi Lerep ketika tradisi ini berlangsung, datanglah bukan hanya untuk melihat kemeriahannya. Perhatikan bagaimana warga menjaga air, bekerja bersama, dan mempertahankan pengetahuan leluhur.

Dari sana kita bisa belajar bahwa menjaga alam terkadang tidak membutuhkan konsep yang rumit-cukup kesadaran bahwa sumber kehidupan harus dirawat bersama.

FAQ

1. Apa itu Tradisi Iriban Desa Lerep?

Tradisi Iriban adalah kegiatan turun-temurun masyarakat Lerep untuk membersihkan dan merawat sumber mata air serta aliran air yang digunakan bagi kebutuhan warga dan pertanian.

2. Di mana Tradisi Iriban dilaksanakan?

Salah satu lokasi yang dikenal adalah kawasan Wangan Cenginging di Desa Lerep, Ungaran Barat. Kajian akademis juga mencatat mata air Si Udel dan Si Domble sebagai sumber yang terkait dengan kegiatan Iriban.

3. Kapan Tradisi Iriban dilaksanakan?

Sumber resmi Desa Wisata Lerep menyebut pelaksanaan tahunan pada Rabu Kliwon dan mengaitkan tradisi Wangan Cenginging dengan bulan Rajab. Dokumentasi lain menunjukkan waktu dapat berbeda, sehingga jadwal terbaru sebaiknya dikonfirmasi kepada pengelola desa wisata.

4. Apa hubungan Sego Iriban dengan Tradisi Iriban?

Sego Iriban merupakan makanan yang secara tradisional hadir dalam pelaksanaan Iriban. Kini kuliner tersebut juga diperkenalkan kepada wisatawan melalui Pasar Jajanan Ndeso Lerep.

5. Apa nilai utama yang terdapat dalam Tradisi Iriban?

Nilai utamanya mencakup gotong royong, rasa syukur, kebersamaan, penghormatan terhadap warisan leluhur, serta kepedulian terhadap kelestarian sumber daya air.