Nama sebuah desa sering kali terdengar sederhana, tetapi di baliknya bisa tersimpan cerita panjang yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Hal seperti inilah yang dapat ditemukan ketika membahas asal-usul nama Lerep, sebuah desa di Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.
Desa yang berada di kawasan lereng Gunung Ungaran ini memiliki cerita rakyat yang berkaitan dengan perjalanan Sunan Hasan Munadi atau Bambang Karto Nadi.
Dalam cerita yang berkembang di masyarakat, kawasan Lerep pernah menjadi tempat untuk berhenti, beristirahat, dan menenangkan hati di tengah sebuah perjalanan panjang. Dari pengalaman tersebut kemudian muncul istilah yang dipercaya menjadi asal nama Lerep.
Menariknya, cerita mengenai nama Lerep memiliki beberapa versi. Ada yang menekankan kata leren dan menep, sementara sumber lain menghubungkannya dengan Kyai Kadilangu serta makna ketenteraman atau ayem.
Perbedaan ini justru membuat cerita masyarakat Lerep semakin menarik untuk dipelajari sebagai bagian dari sejarah tutur lokal.
Asal-Usul Nama Lerep Berawal dari Cerita Babad Nyatnyono
Cerita mengenai asal-usul Desa Lerep memiliki hubungan yang cukup erat dengan kisah Babad Nyatnyono.
Tokoh yang sering muncul dalam cerita tersebut adalah Bambang Karto Nadi atau Sunan Hasan Munadi, yang dalam sumber lokal diceritakan sebagai seorang Tumenggung atau punggawa Kerajaan Demak.
Dalam cerita masyarakat, Hasan Munadi mendapat tugas menghadapi kelompok yang dipimpin oleh Ki Hajar Buntit di kawasan sekitar Gunung Ungaran.
Pengejaran tersebut membawa perjalanan dari wilayah Nyatnyono menuju sejumlah tempat yang kemudian dikenal sebagai bagian dari kawasan Ungaran dan sekitarnya.
Perjalanan panjang itulah yang menjadi bagian penting dari cerita munculnya nama Lerep.
Ketika berada di suatu kawasan di lereng utara Gunung Ungaran, Hasan Munadi dikisahkan berhenti untuk beristirahat.
Tempat tersebut terasa tenang, memiliki bentang alam yang nyaman, serta dianggap cocok sebagai lokasi untuk memulihkan tenaga sebelum melanjutkan perjalanan.
Dari peristiwa sederhana berupa berhenti dan beristirahat tersebut kemudian berkembang sebuah cerita yang terus disampaikan oleh masyarakat dari generasi ke generasi.
Makna Leren dan Menep dalam Nama Lerep
Versi yang cukup banyak ditemukan menyebutkan bahwa nama Lerep berasal dari gabungan makna “leren” dan “menep”.
Dalam bahasa Jawa, leren berarti berhenti atau beristirahat. Sementara menep dalam konteks cerita tersebut merujuk pada aktivitas menenangkan hati, merenung, atau melakukan muhasabah.
Hasan Munadi diceritakan berhenti di kawasan tersebut untuk beristirahat sekaligus mencari ketenangan sebelum melanjutkan tugasnya.
Cerita yang sama juga muncul dalam buku mengenai Desa Wisata Lerep, yang menjelaskan ungkapan “leren lan menep”, kurang lebih bermakna beristirahat dan merenung. Dari ungkapan itulah masyarakat kemudian menghubungkannya dengan nama Lerep.
Jika diperhatikan, makna tersebut terasa cukup sesuai dengan karakter geografis kawasan ini.
Lerep berada di lereng Gunung Ungaran dan dikenal memiliki lingkungan pedesaan serta bentang alam pegunungan. Saat ini pun profil Desa Wisata Lerep menggambarkan wilayah tersebut sebagai kawasan dengan udara sejuk dan panorama lereng Gunung Ungaran.
Karena itu, konsep leren dan menep tidak hanya menarik sebagai cerita asal nama. Maknanya juga dapat dipandang sebagai gambaran tentang sebuah tempat untuk berhenti sejenak, menikmati suasana, dan mendapatkan ketenangan.
Kisah Sunan Hasan Munadi dan Ki Hajar Buntit
Cerita masyarakat Lerep menjadi semakin menarik karena penamaan desa tidak berdiri sendiri. Di dalamnya terdapat rangkaian kisah pengejaran antara Hasan Munadi dan Ki Hajar Buntit.
Salah satu versi lokal menceritakan bahwa pertempuran bermula di kawasan Sendang Putri Nyatnyono.
Setelah itu, Ki Hajar Buntit disebut bergerak menuju utara dan kemudian ke arah barat. Perjalanan tersebut dikaitkan dengan beberapa nama tempat seperti Karangbolo, Poncoruwo, dan Soka.
Ketika melakukan pengejaran itulah Hasan Munadi kemudian berhenti di sebuah kawasan yang tenang.
Menurut cerita lain, setelah merasakan ketenteraman di lokasi tersebut, ia melihat adanya air dan lahan yang memungkinkan untuk digunakan sebagai tempat bercocok tanam.
Beberapa anggota rombongannya kemudian disebut ditugaskan menetap dan membuka lahan dengan dipimpin oleh seorang tokoh bernama Kyai Dangu.
Cerita ini memperlihatkan bahwa asal-usul Lerep tidak hanya dikaitkan dengan sebuah nama, tetapi juga dengan gagasan tentang pembukaan permukiman dan pemanfaatan lahan pertanian.
Namun, kisah tersebut sebaiknya dipahami sebagai tradisi tutur dan cerita lokal, bukan sebagai kronologi sejarah yang seluruh bagiannya telah dibuktikan melalui dokumen tertulis sezaman.
Versi Cerita Kyai Kadilangu tentang Nama Lerep
Hal menarik lainnya adalah adanya versi yang menyebut Kyai Kadilangu atau Kyai Kadilungu dalam penamaan Lerep.
Catatan yang dimuat dalam publikasi Desa Wisata Lerep menyebut bahwa nama Lerep pertama kali ditemukan atau diberikan oleh seorang kyai bernama Kyai Kadilangu, yang menurut para sesepuh dianggap sebagai seorang wali.
Versi ini tetap menghubungkan cerita tersebut dengan pengejaran Hasan Munadi terhadap Ki Hajar Buntit.
Dalam versi tersebut, Hasan Munadi disebut beristirahat di sebuah tempat yang tenang. Kawasan itu kemudian dikenal sebagai Lerep, yang digambarkan memiliki pengertian ayem, tenteram, atau tempat yang memberikan ketenangan.
Kajian akademis mengenai Desa Wisata Lerep juga mencatat versi serupa. Penamaan Lerep dikaitkan dengan Kyai Kadilangu dan kondisi tempat ketika Hasan Munadi sedang beristirahat di kawasan yang sejuk dan indah.
Adanya beberapa versi bukan berarti salah satunya harus langsung dianggap keliru.
Dalam sejarah lisan, cerita memang dapat mengalami perubahan ketika diwariskan selama bertahun-tahun. Nama tokoh, urutan kejadian, hingga penjelasan mengenai sebuah tempat bisa sedikit berbeda, sementara inti ceritanya tetap sama.
Dalam kasus Lerep, benang merahnya cukup jelas: sebuah tempat untuk berhenti, mendapatkan ketenangan, dan kemudian menjadi kawasan permukiman.
Dari Cerita Rakyat Menuju Desa Lerep Secara Administratif
Cerita asal-usul nama Lerep kemungkinan jauh lebih tua dibandingkan catatan administrasi desa yang tersedia saat ini. Ketika memasuki abad ke-20, informasi mengenai pemerintahan Lerep mulai lebih mudah ditelusuri.
Sumber penelitian mengenai Desa Lerep mencatat nama Karto Amijoyo sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah pemerintahan desa.
Ada perbedaan pencatatan mengenai awal kepemimpinannya, tetapi sumber lokal mencantumkannya sebagai Kepala Desa Lerep pada periode 1943-1955.
Pada awal 1940-an, wilayah yang kini menjadi Desa Lerep terdiri dari beberapa kawasan yang sebelumnya memiliki struktur tersendiri. Karto Amijoyo disebut memimpin wilayah Gorno yang meliputi Tegalrejo, Karang Tengah atau Kretek, Lorog, dan Karangbolo.
Di bagian atas terdapat wilayah Soka, Lerep, dan Indrokilo.
Sekitar 1943, masyarakat wilayah atas dan Gorno kemudian dikumpulkan. Karto Amijoyo disepakati sebagai pemimpin wilayah gabungan, dan nama Desa Lerep kemudian digunakan untuk kesatuan administratif tersebut.
Salah satu sumber penelitian menyebut pemilihan nama itu juga terkait posisi Lerep sebagai wilayah yang luas dan menjadi tempat utama.
Dari sini dapat terlihat perbedaan antara asal nama berdasarkan cerita masyarakat dan perkembangan Desa Lerep sebagai wilayah pemerintahan.
Keduanya saling melengkapi dalam memahami perjalanan desa.
Cerita Masyarakat yang Menjaga Identitas Lerep
Cerita masa lalu di Lerep tidak hanya tersimpan dalam kisah mengenai nama desa. Identitas masyarakat juga terlihat melalui tradisi yang masih dijalankan.
Salah satunya adalah Iriban, tradisi yang berhubungan dengan pemeliharaan mata air dan saluran air.
Dalam kegiatan tersebut, masyarakat membersihkan sumber air dan jaringan irigasi secara bersama-sama. Tradisi ini menunjukkan kuatnya hubungan antara kehidupan warga, pertanian, dan kelestarian lingkungan.
Nilai guyub rukun juga disebut sebagai salah satu prinsip yang hidup dalam masyarakat Desa Lerep. Kebersamaan terlihat dalam berbagai aktivitas sosial, budaya, hingga pengelolaan lingkungan.
Selain Iriban, berbagai tradisi seperti Kadeso, Sadranan, serta kesenian lokal juga menjadi bagian dari kekayaan budaya Lerep.
Ketika desa ini berkembang menjadi destinasi wisata, sebagian tradisi dan aktivitas sehari-hari masyarakat kemudian ikut diperkenalkan kepada wisatawan.
Hal tersebut membuat cerita masyarakat tidak berhenti sebagai kisah masa lalu. Ia terus hidup melalui kebiasaan, upacara adat, gotong royong, kuliner, dan aktivitas warga.
Makna Nama Lerep bagi Desa Wisata Saat Ini
Menariknya, makna lama Lerep sebagai tempat untuk leren atau berhenti terasa kembali relevan setelah kawasan ini berkembang menjadi desa wisata.
Desa Lerep ditetapkan sebagai desa wisata melalui SK Bupati Semarang Nomor 556/0431/2015 pada 2015.
Pengelolaannya kemudian berkembang dengan keterlibatan Pokdarwis dan BUMDes, sementara Lerep saat ini tercatat dalam Jadesta sebagai desa wisata kategori maju.
Konsep wisata yang ditawarkan juga cukup dekat dengan kehidupan masyarakat.
Wisatawan dapat mengenal aktivitas pertanian, kuliner desa, kerajinan, kesenian, peternakan, hingga mengikuti pengalaman tinggal bersama masyarakat.
Salah satu produk wisatanya bahkan menggunakan konsep “Pulang ke Rumah Nenek”, yang menekankan pengalaman menikmati kehidupan pedesaan.
Jika dikaitkan dengan cerita asal namanya, perkembangan tersebut terasa seperti sebuah lingkaran yang menarik.
Dahulu Lerep diceritakan sebagai tempat seseorang berhenti dan mendapatkan ketenangan. Sekarang, desa ini kembali menjadi tempat orang datang untuk meninggalkan kesibukan kota sejenak dan menikmati suasana pedesaan di lereng Gunung Ungaran.
Mengapa Cerita Asal-Usul Lerep Penting Dilestarikan?
Cerita rakyat bukan sekadar kisah untuk mengenang masa lalu. Di dalamnya terdapat cara masyarakat memahami tempat tinggal, tokoh pendahulu, lingkungan, dan nilai-nilai yang dianggap penting.
Dalam cerita asal-usul Lerep, kita menemukan sejumlah nilai sekaligus: pentingnya beristirahat dan melakukan perenungan, hubungan manusia dengan alam, pembukaan lahan untuk kehidupan, serta semangat hidup bersama.
Karena sumber yang ada menunjukkan beberapa variasi cerita, cara terbaik melestarikannya bukan dengan memaksakan satu versi sebagai satu-satunya kebenaran. Sebaliknya, berbagai versi dapat didokumentasikan dengan keterangan yang jelas mengenai asal ceritanya.
Pendekatan seperti ini penting terutama bagi generasi muda.
Ketika mereka memahami mengapa desanya disebut Lerep, siapa tokoh yang muncul dalam cerita para sesepuh, serta bagaimana budaya lokal terbentuk, identitas desa tidak mudah hilang di tengah perkembangan zaman dan pariwisata.
Asal-usul nama Lerep merupakan bagian menarik dari cerita masyarakat di lereng Gunung Ungaran.
Versi yang paling banyak ditemukan menghubungkan nama tersebut dengan perjalanan Sunan Hasan Munadi dan ungkapan leren serta menep-beristirahat sekaligus menenangkan hati.
Ada pula versi yang mengaitkan penamaan Lerep dengan Kyai Kadilangu dan makna tempat yang ayem serta tenteram.
Walaupun sebagian kisahnya berasal dari tradisi tutur, cerita tersebut tetap memiliki nilai penting karena membentuk identitas masyarakat Lerep hingga sekarang.
Jika berkunjung ke Desa Wisata Lerep, jangan hanya menikmati pemandangan dan kulinernya. Cobalah mengenal cerita para sesepuh, tradisi masyarakat, dan jejak budaya setempat.
Dengan cara itulah perjalanan ke Lerep tidak hanya menjadi wisata, tetapi juga kesempatan memahami kisah di balik sebuah nama.
FAQ
1. Apa arti nama Lerep?
Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, Lerep dikaitkan dengan kata Jawa leren yang berarti berhenti atau beristirahat dan menep yang bermakna menenangkan hati atau merenung.
2. Siapa tokoh yang berkaitan dengan asal-usul Desa Lerep?
Tokoh yang paling sering muncul adalah Sunan Hasan Munadi atau Bambang Karto Nadi. Cerita lokal juga menyebut Ki Hajar Buntit, Kyai Dangu, serta dalam versi lain Kyai Kadilangu.
3. Apakah cerita asal-usul Lerep merupakan fakta sejarah?
Sebagian ceritanya merupakan tradisi tutur atau legenda lokal. Karena itu, kisah mengenai Hasan Munadi dan penamaan Lerep sebaiknya dibedakan dari sejarah administratif desa yang memiliki sumber dokumentasi lebih jelas.
4. Di mana Desa Lerep berada?
Desa Lerep berada di Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, di kawasan lereng Gunung Ungaran.
5. Apakah Desa Lerep sekarang menjadi desa wisata?
Ya. Lerep ditetapkan sebagai desa wisata pada 2015 dan saat ini tercatat sebagai Desa Wisata Maju dalam Jejaring Desa Wisata Kementerian Pariwisata.
