Berada di lereng Gunung Ungaran yang sejuk, Desa Lerep bukan sekadar tempat untuk menikmati suasana pedesaan.
Di balik hamparan kebun, sumber mata air, kuliner tradisional, dan kehidupan masyarakatnya, desa yang berada di Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang ini menyimpan perjalanan sejarah yang cukup panjang.
Sejarah Desa Lerep berkaitan erat dengan cerita lokal mengenai perjalanan Sunan Hasan Munadi di kawasan Gunung Ungaran. Nama “Lerep” sendiri dipercaya muncul dari peristiwa ketika sang tokoh berhenti untuk beristirahat dan menenangkan diri dalam perjalanannya.
Cerita tersebut kemudian diwariskan secara turun-temurun dan menjadi bagian dari identitas masyarakat hingga sekarang. Namun, sejarah Lerep tidak berhenti pada cerita asal-usulnya.
Perjalanan desa ini terus berkembang, mulai dari pembentukan wilayah administratif, kehidupan masyarakat yang bertumpu pada sumber daya alam, hingga transformasinya menjadi salah satu desa wisata di Kabupaten Semarang.
Lalu, bagaimana perjalanan Desa Lerep dari sebuah kawasan permukiman di lereng Gunung Ungaran hingga dikenal sebagai desa wisata? Berikut kisahnya.
Mengenal Desa Lerep di Lereng Gunung Ungaran
Desa Lerep secara administratif berada di Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.
Wilayahnya berada pada bentang alam yang cukup beragam karena sebagian kawasan terletak dekat pusat Ungaran, sementara bagian lainnya menanjak menuju lereng Gunung Ungaran.
Profil Desa Wisata Lerep mencatat wilayah desa berada pada ketinggian sekitar 344 hingga 940 meter di atas permukaan laut.
Perbedaan ketinggian tersebut membuat karakter wilayah Lerep cukup unik, dari kawasan yang relatif datar hingga perbukitan dengan suasana pegunungan.
Secara historis, kondisi alam ini ikut memengaruhi kehidupan masyarakat. Tanah yang relatif subur mendukung kegiatan pertanian dan perkebunan, sementara ketersediaan sumber air menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari.
Kini karakter pedesaan tersebut justru menjadi salah satu modal utama pariwisata Lerep. Pengunjung tidak hanya datang untuk melihat objek wisata, tetapi juga untuk merasakan aktivitas pertanian, peternakan, kuliner, budaya, hingga kehidupan masyarakat desa.
Asal-Usul Nama Desa Lerep
Cerita mengenai asal-usul Desa Lerep tidak dapat dilepaskan dari tradisi tutur masyarakat setempat. Salah satu versi yang banyak diceritakan berkaitan dengan Babad Nyatnyono dan Sunan Hasan Munadi, yang disebut juga Bambang Karto Nadi.
Dalam cerita tersebut, Sunan Hasan Munadi merupakan seorang punggawa Kerajaan Demak yang mendapat tugas menghadapi kelompok yang dipimpin Ki Hajar Buntit di kawasan sekitar Gunung Ungaran.
Ketika melakukan perjalanan dan pengejaran, rombongannya berhenti di lereng utara Gunung Ungaran.
Di tempat tersebut, Hasan Munadi dikisahkan memilih untuk “leren”, atau beristirahat, sekaligus “menep”, yang dimaknai sebagai menenangkan hati dan melakukan perenungan.
Dari perpaduan gagasan leren dan menep itulah nama Lerep dipercaya berasal.
Cerita lokal juga menyebutkan bahwa Hasan Munadi melihat kawasan tersebut memiliki bentang alam yang baik, air yang cukup serta lahan yang memungkinkan untuk bercocok tanam.
Beberapa pengikutnya kemudian ditugaskan menetap dan membuka lahan pertanian di bawah pimpinan seorang tokoh bernama Kyai Dangu.
Perlu dipahami bahwa bagian ini merupakan sejarah tutur atau legenda lokal, sehingga sebaiknya tidak diperlakukan sama dengan catatan administratif modern.
Meski demikian, cerita tersebut penting karena memperlihatkan bagaimana masyarakat Lerep memahami asal-usul wilayah dan identitas desanya.
Jejak Awal Pemerintahan Desa Lerep
Catatan mengenai pemerintahan Desa Lerep mulai lebih jelas ketika memasuki abad ke-20.
Penelitian yang menggunakan data dan keterangan dari Desa Lerep menyebut Karto Amijoyo sebagai lurah pertama yang tercatat dalam Buku C Desa Lerep.
Ia disebut memimpin sekitar tahun 1920 hingga 1955. Meski kemungkinan telah ada pemimpin sebelumnya, catatan sejarahnya belum ditemukan secara lengkap.
Pada masa itu wilayah yang sekarang dikenal sebagai Desa Lerep belum sepenuhnya terbentuk dalam susunan seperti sekarang.
Karto Amijoyo sebelumnya disebut memimpin wilayah Gorno yang mencakup sejumlah pedukuhan. Sekitar tahun 1930-an terjadi proses penggabungan dengan wilayah Lerep yang ketika itu mengalami kekosongan kepemimpinan.
Kemudian pada sekitar 1943 dilakukan pertemuan masyarakat dari wilayah-wilayah tersebut. Karto Amijoyo disepakati sebagai pemimpin wilayah gabungan dan nama Desa Lerep digunakan sebagai nama kesatuan administratif tersebut.
Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa sejarah Lerep bukan hanya terbentuk dari cerita tokoh masa lalu, tetapi juga melalui proses perkembangan pemerintahan dan penyatuan kawasan permukiman.
Kehidupan Masyarakat Lerep dan Hubungannya dengan Alam
Berada di lereng Gunung Ungaran membuat kehidupan masyarakat Desa Lerep sejak lama memiliki hubungan kuat dengan alam.
Pertanian menjadi salah satu kegiatan yang melekat dalam kehidupan masyarakat. Komoditas yang berkembang antara lain singkong, ubi jalar, sayuran, dan berbagai jenis buah. Peternakan sapi perah juga menjadi salah satu kegiatan ekonomi yang dikenal di wilayah ini.
Hubungan masyarakat dengan alam bahkan terlihat dalam tradisi budaya.
Salah satu yang paling terkenal adalah Tradisi Iriban Wangan Cenginging. Tradisi ini dilaksanakan masyarakat dengan berkumpul di kawasan sumber mata air untuk melakukan kegiatan bersih sumber air dan lingkungan sekitarnya.
Tradisi Iriban bukan sekadar kegiatan seremonial. Di dalamnya terdapat nilai gotong royong sekaligus pesan mengenai pentingnya menjaga sumber daya air.
Masyarakat membersihkan lingkungan dan melakukan penanaman pohon di sekitar sumber mata air. Setelah kegiatan tersebut, warga melaksanakan doa dan makan bersama sebagai bagian dari tradisi.
Dari sinilah terlihat bahwa budaya di Desa Lerep memiliki hubungan erat dengan kondisi alam di lereng Gunung Ungaran.
Tradisi Lokal yang Membentuk Identitas Desa Lerep
Selain Iriban, masyarakat Lerep memiliki sejumlah tradisi lain yang terus dipertahankan.
Salah satunya adalah Kadeso, sebuah kegiatan tahunan sebagai wujud rasa syukur masyarakat atas hasil bumi dan berkah yang diterima. Dalam rangkaiannya terdapat karnaval atau pawai dengan membawa tumpeng yang tersusun dari hasil pertanian dan makanan.
Tradisi tersebut menunjukkan kuatnya budaya agraris dalam kehidupan masyarakat.
Menariknya, perkembangan pariwisata tidak membuat tradisi tersebut menghilang. Sebaliknya, beberapa tradisi lokal kemudian diperkenalkan kepada wisatawan sebagai bagian dari pengalaman berkunjung ke Lerep.
Ada pula berbagai bentuk kesenian dan aktivitas budaya yang berkembang, mulai dari Tari Caping Gangsing, permainan tradisional, wayang suket hingga berbagai pertunjukan budaya.
Pendekatan seperti ini membuat wisata di Lerep tidak sebatas kegiatan melihat pemandangan.
Wisatawan dapat mengenal cara hidup masyarakat, mengikuti aktivitas warga, belajar mengolah hasil pertanian, hingga memahami tradisi yang telah berlangsung selama beberapa generasi.
Awal Perjalanan Lerep Menjadi Desa Wisata
Perubahan penting dalam perjalanan Desa Lerep terjadi ketika potensi alam dan budayanya mulai dikembangkan secara lebih serius sebagai pariwisata berbasis masyarakat.
Menurut profil resmi Jejaring Desa Wisata Kementerian Pariwisata, Desa Lerep ditetapkan sebagai desa wisata melalui Surat Keputusan Bupati Semarang Nomor 556/0431/2015 pada tahun 2015.
Pada tahap awal, pengelolaan pariwisata dilakukan bersama Pokdarwis Rukun Santosa.
Perkembangannya kemudian semakin terorganisasi setelah terbentuk Badan Usaha Milik Desa Gerbang Lentera. Berdasarkan Peraturan Desa Lerep Kecamatan Ungaran Barat Nomor 3 Tahun 2017, kegiatan pariwisata menjadi salah satu unit usaha BUMDes.
Penelitian mengenai perkembangan pariwisata Lerep mencatat perjalanan status desa dari kategori rintisan pada 2016-2018, berkembang pada 2018-2019, hingga kemudian masuk klasifikasi desa wisata maju.
Transformasi tersebut menarik karena potensi yang dikembangkan sebenarnya berasal dari kehidupan sehari-hari masyarakat.
Pertanian, kuliner, budaya, peternakan, alam, dan kebiasaan warga dikemas menjadi pengalaman wisata tanpa sepenuhnya menghilangkan fungsi aslinya.
Dari Desa Agraris Menjadi Destinasi Wisata Berbasis Masyarakat
Salah satu kekuatan utama Desa Wisata Lerep adalah keterlibatan warga.
Konsep wisatanya bukan sekadar membangun wahana baru, melainkan mengubah berbagai potensi desa menjadi kegiatan yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
Contoh paling menarik dapat dilihat pada kuliner.
Harga hasil pertanian yang rendah mendorong masyarakat mengolah berbagai komoditas menjadi makanan tradisional yang kemudian dipasarkan kepada wisatawan melalui Pasar Kuliner Jajanan Ndeso.
Pasar tersebut menghadirkan berbagai hidangan lokal seperti Sego Iriban, Sego Tonjok, Bubur Suweg, Dawet Nganten, Getuk Ndeler hingga beragam minuman tradisional.
Konsep penyajiannya juga mempertahankan nuansa pedesaan dengan menggunakan bahan seperti daun dan anyaman bambu.
Pengembangan desa wisata ternyata membawa efek ekonomi.
Sebuah penelitian tahun 2019 mengenai dampak pengembangan Desa Wisata Lerep menemukan adanya perbaikan pada aspek atraksi, aksesibilitas, amenitas, sosial budaya serta pendapatan pelaku usaha dan jasa pariwisata.
Artinya, pariwisata di Lerep tidak hanya diarahkan untuk mendatangkan pengunjung, tetapi juga menjadi instrumen pemberdayaan ekonomi warga.
Desa Wisata Lerep di Masa Kini
Perjalanan panjang tersebut membawa Lerep menjadi salah satu desa wisata yang dikenal di Kabupaten Semarang.
Jejaring Desa Wisata mencatat Lerep sebagai Desa Wisata Maju. Desa ini juga masuk 100 Besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2021, serta tercatat dalam 300 Besar ADWI 2024.
Pilihan aktivitas wisata pun semakin beragam.
Wisatawan dapat menikmati Curug Indrokilo, Embung Sebligo, aktivitas susur sungai, berkemah, membajak sawah bersama kerbau, membuat batik ecoprint, belajar menganyam bambu, memainkan permainan tradisional hingga mengikuti paket live in bersama masyarakat.
Konsep seperti “Pulang ke Rumah Nenek” bahkan menawarkan pengalaman tinggal di desa dan mengikuti kehidupan warga secara lebih dekat.
Transformasi ini menunjukkan bahwa perkembangan desa wisata tidak selalu harus dimulai dengan menciptakan atraksi besar.
Lerep justru menunjukkan bahwa sejarah, tradisi, makanan, alam, pertanian dan aktivitas sederhana masyarakat bisa menjadi kekuatan wisata ketika dikelola secara kreatif dan melibatkan warga.
Mengapa Sejarah Desa Lerep Penting untuk Dijaga?
Memahami sejarah Desa Lerep berarti memahami alasan mengapa desa wisata ini memiliki karakter yang berbeda.
Tradisi Iriban, misalnya, bukan sekadar pertunjukan wisata. Di baliknya terdapat pengetahuan lokal mengenai pentingnya sumber mata air.
Begitu pula dengan kuliner tradisional. Makanan yang disajikan kepada wisatawan sebenarnya merupakan bagian dari kehidupan dan tradisi masyarakat yang berkembang selama bertahun-tahun.
Karena itu, tantangan Desa Wisata Lerep ke depan adalah menjaga keseimbangan antara kebutuhan pariwisata dan pelestarian identitas lokal.
Wisata memang mampu menciptakan peluang ekonomi. Namun, nilai terbesarnya akan tetap terjaga apabila budaya tidak hanya dipentaskan untuk wisatawan, melainkan tetap hidup dalam keseharian masyarakat.
Di sinilah sejarah memiliki peran penting. Dengan memahami asal-usul sebuah tradisi, generasi muda memiliki alasan yang lebih kuat untuk mempertahankannya.
Sejarah Desa Lerep memperlihatkan perjalanan sebuah desa yang tumbuh bersama alam dan kebudayaan masyarakat lereng Gunung Ungaran.
Dari cerita mengenai Sunan Hasan Munadi, Kyai Dangu, perkembangan pemerintahan desa pada awal abad ke-20, hingga transformasi menjadi desa wisata, semuanya membentuk identitas Lerep seperti yang dikenal sekarang.
Keberhasilan Lerep menjadi desa wisata juga menunjukkan bahwa kekuatan sebuah destinasi tidak selalu berada pada objek wisata besar. Tradisi, sumber mata air, pertanian, makanan lokal, kesenian dan kehidupan masyarakat justru menjadi daya tarik yang autentik.
Jika sedang berkunjung ke Kabupaten Semarang atau kawasan Ungaran, Desa Wisata Lerep layak dimasukkan ke daftar perjalanan.
Datanglah bukan hanya untuk berwisata, tetapi juga untuk mengenal cerita, budaya, dan kehidupan masyarakat yang membuat Lerep tetap menarik dari generasi ke generasi.
FAQ
1. Di mana lokasi Desa Lerep?
Desa Lerep berada di Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, di kawasan lereng Gunung Ungaran.
2. Apa asal-usul nama Lerep?
Menurut cerita lokal, nama Lerep berkaitan dengan kata leren yang berarti beristirahat dan menep yang dimaknai sebagai menenangkan hati. Cerita tersebut dikaitkan dengan perjalanan Sunan Hasan Munadi.
3. Kapan Lerep ditetapkan sebagai desa wisata?
Menurut profil resmi Jejaring Desa Wisata Kementerian Pariwisata, Lerep ditetapkan sebagai desa wisata melalui SK Bupati Semarang Nomor 556/0431/2015 pada tahun 2015.
4. Apa tradisi terkenal di Desa Lerep?
Salah satu yang paling dikenal adalah Tradisi Iriban, yaitu tradisi menjaga dan membersihkan sumber air. Selain itu terdapat Kadeso, Tari Caping Gangsing dan berbagai kesenian tradisional.
5. Apa daya tarik utama Desa Wisata Lerep?
Daya tariknya mencakup wisata alam, pertanian, peternakan, kuliner tradisional, budaya, Embung Sebligo, Curug Indrokilo, aktivitas edukasi serta pengalaman tinggal bersama masyarakat melalui paket live in.
